Jumat, 30 Oktober 2009

Qua Vadis Pemuda Kristen

Kaum Muda gereja kini dan masa depan
Oleh Pdt. Statistik Siahaan,STh

Kita saat ini mungkin harus tapakur sejenak untuk merenungkan atas kemandulan dan kefasifan pemuda Kristen. Situasi pemuda Kristen saat ini mati suri. Gerakan pemuda pada dekade 10 tahun ini hanya untuk dirinya sendiri. Itulah sepertinya awal kemandekan gereja atau tidak hadirnya orang yang memiliki militansi tinggi untuk masa depan. Pengurus gereja dan orang tua masih terlihat sangat puas jika para pemuda rajin ibadah dan bernyanyi, bahas Alkitab. Namun disisi lain terisolasi atas pengetahuan dan peran sertanya memberi partisipasi atas pertumbuhan gereja, aktivitas sosial serta keadaan berbangsa dan bernegara.

Konteks hidup sebagai warga negara tentu tidak terlepas dari tanggungjawab untuk hidup beragama seperti kristen yang taat beribadah. Tetapi selaku orang yang beragama seperti kristen dalam suatu negara dituntut pula peran dan tanggungjawabnya sebagai warga negara untuk menetukan arah bangsa. Hal ini satu kesatuan yang utuh. Hidup bergereja adalah masa pembinaan iman untuk berkesaksian ditengah dunia khususnya hidup berbangsa. Untuk hal ini bersaksi di Negara Kesatuan Republik Indonesia yakni turut serta meletakkan dasar kebijakan negara itulah peran politik warga negara. Untuk itu pemuda Kristen tidak boleh apriori dengan apa yang disebut berserikat dan berkumpul. Aktivitas berpolitik itu tidak ada salahnya. Ada orang berpolitik yang salah arah sehingga mencari kekuasaan untuk menindas atau memanfaatkan kekuasaan untuk mengejar kepentingan diri sendiri. Inti berpolitik bukan itu tetapi menghadirkan sesuatu yang baik dan berguna bagi masyarakat. Pemuda Kristen perlu turut memberi kritik yang membangun terhadap kebijakan pemerintah. Peran untuk membangun bangsa yang bermartabat tidak harus menduduki jabatan dewan. Tugas memberi pemikiran dan gerakan yang konstruktif perlu diberikan oleh pemuda Kristen. Untuk itu Pemuda Kristen tidak boleh mandul dalam berpikir dan tetapi berbuat nyata demi Indonesia. Hal itu dapat diwujudkan dengan diskusi panel, seminar, sharing ide, workshope, gerakan sosial dan lain-lain seperti menentang kemaksiatan, judi, narkoba, miras, menghadirkan studi kemasyarakatan yang tujuannya mengoreksi akan kebijakan pemerintah yang mungkin telah melenceng dan memberi sumbangan nyata untuk pertumbuhan Indonesia Sejahtera. Namun itu menjadi pemuda yang produktif, maka tidak boleh meninggalkan tugas utama yaitu sekolah dan kuliah, bekerja dan berkeluarga. Jika peran pemuda itu diperankan dengan baik dan akomodatif dengan semua kondisi namun kukuh dalam iman maka akan tercapai keharmonisan dalam NKRI dan perjuangan dalam Indonesia yang satu kesatuan itu akan terus terpelihara.

Namun saat ini Pemuda Kristen terlihat tidak memiliki semangat perjuangan dalam ruang lingkup nasional. Pada diri pemuda ada kesan tidak ada visi mau kemana dibawa bangsa ini. Sementara kelompok agama lain semakin gencar-gencarnya membina kaum mudanya untuk misi kedepan. Lembaga-lembaga yang peduli banyak mendukung demi tercapainya rencana dakwanya. Bagaimana dengan warga Kristen ? Lembaga - lembaga berbasis Kristen tidak banyak memberi perhatian pada pemuda sehingga tidak banyak pemuda yang militan.
Lembaga Kristen yang kurang memberi perhatian mengakibatkan setiap pekerja Kristen itu berjalan sendiri-sendiri. Pada umumnya setiap orang Kristen yang menjadi pejabat dinegara ini cenderung mandiri sejak sekolah sampai dengan duduk diposisi jabatan yang biasa maupun strategis dan duduk sebagai legislatif. Ini titik kelemahan yang mengakibatkan warga Kristen terlihat tidak solid. Hal lain juga terlihat bahwa orang-orang yang telah memiliki jabatan itu tidak loyal terhadap iman dan gerejanya. Dampak lainnya tidak mau melakukan kaderisasi pada rekan-rekan seimannya. Semua ini akibat tidak adanya pembangunan kesatuan gerak bersama sejak muda sehingga terjadi kelumpuhan. Hal itu juga diakibatkan Gerakan Mahasiswa Kristen yang terlihat keropos sehingga tidak kritis menyikapi segala bentuk permasalahan di negara dan bermasyarakat. Nilai kritis mahasiswa untuk segala bentuk kebijakan pemerintah tidak ada, semua sudah seperti manut-manut saja. Prilaku hidup pemuda saat ini secara umumnya yaitu narsis, pestapesta, jalanjalan, nonton bareng, face bookan, olah raga semua untuk kalangan sendiri (individualistis). Semua sekedar isi waktu luang, sudah sangat sedikit memberi diri untuk membangun kelompok diskusi dan kelompok pemerhati dan menyikapi arah bangsa ini. Akhirnya banyak kesempatan kesempatan yang harusnya dapat dimiliki oleh pemuda kristen akhirnya hilang lenyap tanpa bekas.

Pergumulan berat dimasa akan datang bahwa banyak ahli melihat politik Indonesia ini tidak terlihat nilai nasionalisnya. Manusia haus kekuasaan akan muncul dan banyak yang sudah menjilat ke setiap rezim yang memerintah sampai dengan sekarang ini. Semua itu secara pandangan khusus banyak yang hendak mengolkan Indonesia mengangkat satu simbol saja. Indonesia akan mengalami keruwetan yang sistemik. Jika pemerintah elit politik ini tidak dikritisi maka penghambatan yang sistemik ini terus bermunculan dan kelompok minoritas akan mengalami keterasingan. Ada yang mengatakan keinginan itu tidak akan terjadi, namun mereka sudah melakukan gerakan secara baik dan terkordinasi di semua aras. De Facto dilapangan simbol satu kelompok sudah lebih kentara dan mengekang warna lain serta menghambat kesempatan berkarya bagi orang diluar simbol tertentu itu. Untuk itu banyak orang menjadi beralih iman atas desakan dan tekanan hidup, utang budi dan lain-lain. Jika kita mengatakan bahwa Indonesia tetap plural majemuk maka apa gerakan bersama yang harus dilakukan agar kita eksis nyata dan tidak diobokobok. Para pemuda harus sadar, bahwa dimasa depan akan menghadapi dampak keputusan politik dimasa kini seperti banyaknya ajaran agama menjadi undang-undang, hadirnya syariah di beberapa daerah dan lembaga-lembaga. Apa ini bukan masalah, dimana nilai iman dan nasionalisme kaum muda Kristen berjuang menegakkan NKRI tanpa harus menegakkan simbol-simbol?

Untuk itu Pemuda Kristen perlu kembali bangkit untuk menunjukkan karyanya di NKRI ini. Gereja sangat bertanggungjawab membina ahlak, moral pemuda dan memberikan pemahaman nasionalis serta memfasilitasi pemuda mempelajari politik di negara ini. Gereja perlu membekali pemuda sehingga jika pada waktunya mereka menjadi teknokrat, birokrat, legislatif, yudikatif atau menjadi bisnisman atau menjadi karyawan sekalipun semua telah memiliki integritas dan dedikasi. Gereja perlu berbenah diri dan memberi perhatian yang penuh untuk masa depan gereja dan kekristenan melalui kaum muda ini.31/11/09/Pdtss/Limo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar